Langsung ke konten utama

Anak-Anak Dalam Pandangan Islam

Masa anak-anak adalah masa pertumbuhan fisik dan mental, dan dimasa ini pulalah pertumbuhan ilmu dan fikiran anak-anak sedang dalam pertunasan.

 

HUKUM ANAK-ANAK :

  1. Secara ideologi
    Anak-anak bisa di hukumi islam secara ideology dengan sah, namun hanyalah dengan ''TAB'AN LI WALYHI''(ikut walinya) baik dari ayah maupun kakek, atau ''assaaby''(pemboyongnya) dalam masalah peperangan.
  2. Secara Ibadah
    Anak-anak dalam ibadah di hukumi sah secara keseluruhan terkecuali ibadah-ibadah yang berkaitan dengan harta yang meliputi: (a) Tabarru' al maaly (bersedekah dengan harta) (b) Wasiat (c) Waqaff. Dari ketiga hal ini seorang waly, qoyyim, washy, dan naadhir dari  anak-anak tersebutlah kunci  dari sah dan tidaknya ibadah tersebut. Diselain tiga hal diatas jika dikatakan sah secara mutlaq bila memenuhi syarat dan rukunnya, maka dari segi niatnya tidaklah berubah walaupun ibadahnya masih jatuh sunnah. Dan dari segi  pahala, masih terjadi khilaf antara fuqoha, sebagin mengatakan jatuh buat orang tua anak-anak, dan sebagian fuqoha yang lain menghukumi pahalanya buat si anak tersebut.
  3. Secara Muamalah
    Anak-anak tidak sah menjalankan aqad yang luzumnya dari dua arah muqbil dan mujib, karena anak-anak masih berstatus ''masluubul 'ibaaroh dan wilayah''. Terkecuali muamalah yang dalam hal-hal remeh dalam ''bai' mua'athoh''.
  4. Secara Nikah
    Anak-anak sah menjalankan nikah, namun waly adalah muqbil dari aqad yang dijalankannya.
  5. Secara Perjual Belian
    Anak-anak muslim yang berstatus budak dapat diperjual belikan secara mutlaq dengan dua syarat;
    a.tidak bersama ibunya, dan atau harus dijual bersama ibunya jika ada.
    b.pembelinya adalah seorang muslim.
  6. Secara Dewasa (Aqil Baligh)
    Anak-anak dihukumi baligh dengan umur 15 secara mutlaq, dan keluar many atau darah haidh, dan selain tanda diatas khusus masalah perang seorang anak tawanan perang dapat di hukumi baligh jika bulu kemaluannya sudah tumbuh.

WHY SHOULD WE LOVE CHILDREN?

Islam adalah agama yang rahmatan lil'alamiin, ''mencintai anak-anak'' adalah salah satu tuntunannya. Lalu kenapa? dan rahasia apa yang terkandung dalam diri anak-anak? tak lain dan tak bukan Karena anak-anak adalah:

  1. Anak anak adalah ''barokah''.
    Dalam sebuah hadits Imam ahmad dan Turmudzi meriwayatkan dari abu hurairoh bahwa Rasulullah s.a.w mengajarkan doa kepada pengantin yang berupa; ''semoga Alloh memberkahimu'',(berkah yang dimaksud diantaranya adalah anak).
  2. Anak-anak adalah sebuah rizqi.
    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhory no: 141, dan Imam Muslim no: 1434, dan Imam abu dawd no: 2161, dan Imam Turmudzi :1092 dari Imam ibn Abbas r.a bersaabda Rasululloh s.a.w :'' Jika salah satu kalian menggauli istrinya dan berkata :''dengan menyebut asma Alloh, ya Alloh, singkirkanlah kami dari setan, dan singkirkanlah setan dari apa-apa yang Engkau rizqikan kepada kami'', al hadits, (rizqi di hadits ini bermakna anak).
  3. Anak-anak adalah penghias semata wayang.
    Dalam qur'an surah al furqon: 74, Alloh s.w.t berfirman:''wahai Rabbku berikanlah kepada kami dari istri-istri kami dan dzurriyyah kami penenang dan penghias mata'', (dzurriyyah adalah anak-cucu).
  4. Anak-anak adalah penghantar kita pada sebuah maqom dimana kita bias masuk surga tanpa hisab.
    Imam Tobarony dalam ''mujma' zawaid'' juz: 8, hal: 162, dan dalam  ''mujma' awsath'': 4862, meriwayatkan hadits dari Sayyidah 'Aisyah berkata:''saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:''barang siapa yang mendidik seoarang anak hingga bisa mengucap kalimat tauhid ''tiada tuhan selain Alloh'' maka dia tak akan di hisab oleh Alloh''.
  5. Anak-anak adalah buah hati
    Diriwayatkan dari sahabat Abdulloh ibn Umar r.a, bersabda Rasululloh s.a.w:''sesungguhnya tiap-tiap pohon punya buah, dan buah hati adalah anak'', al hadits. Diriwayatkan oleh Imam al bazzaar, dan di takhrij oleh Imam al haytsami dari ''mujma' zawaaid'' juz: 8, hal: 158.
  6. Anak-anak adalah kemuliaan yang tiada tara.
    Imam Tobarony meriwayatkan dalam ''mujma' awsath'' no: 7391, dari sahabat Abdulloh ibn Umar r.a, Rasululloh s.a.w bersabda:''tidak dilahirkan seorang anak dalam sebuah keluarga, kecuali anak tersebut menjadi kemuliaan yang tak terhingga''.
  7. Bau anak-anak adalah bau surga.
    Dalam sebuah hadits Sahabat Abdulloh ibn Abbas r.a meriwayatkan hadits dari Rasululloh s.a.w, Rasul s.a.w bersabda;''bau seorang anak, adalah bau dari surga''. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tobarony dalam ''mu'jam shoghir'' juz: 1, hal: 21, dan ''mu'jam al awsath'' no: 5856''.
  8. Ciuman kita pada anak merupakan kenaikan derajat di surga.
    Imam Abdulloh ibn Umar r.a berdawuh:''perbanyaklah kalian dalam mencium anak-anak kalian, karena setiap ciuman itu adalah satu derajat di surga, hingga para malaikat pada hadir dan menuliskan bagi kalian dari derajat sebanyak ciuman kalian, dan diantara dua derajat dapat ditempuh perjalanan selama 500 tahun''. Hadits ini di sebutkan oleh Imam ad Daylami dalam kitab ''al firdaus'' hal : 253''.
  9. Anak-anak adalah surga.
    Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya no: 5147, sebuah hadits yang berupa:'' Barang siapa yang menghidupi tiga anak-anak perempuan, atau tiga saudari perempuan, atau dua saudari perempuan, atau dua anak perempuan, kemudian dia mendidiknya dan memperlakukan baik baginya, dan menikahkannya, maka surgalah baginya''.
  10. Anak adalah sebuah amal kebajikan yang terus bersambung.
    Sahabat Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:''ketika manusia wafat amalnya akan terputus kecuali tiga hal; kecuali shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakannya''. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim no:1631, Abu Dawud no: 288, dan Turmudzi no: 1376. (anak sholih yang mendoakan; yang dimaksud adalah maqom do'a, yaitu ''anak muslim'').
  11. Anak-anak adalah  pelayan disurga.
    Sebagaimana di firmankan Alloh s.w.t dalam surat al waqi'ah : 17, ''mereka dilayani oleh anak-anak yang dilanggengkan''.
  12. Anak-anak adalah syafaat.
    Diriwayatkan bahwa salah seorang wali besar sebelumnya adalah seorang pemabuk berat, namun dia memiliki anak perempuan yang telah meninggal dunia. Suatu malam dia bermimpi dikejar-kejar ular raksasa, dia tidak bisa menghindar dari ular tersebut, namun tiba-tiba datanglah anak perempuan yang menghalau ular raksasa itu, setelahnya sang wali bertanya:''siapakah kamu?'', anak itu menjawab:''aku adalah anakmu satu-satunya simpanan amalmu, dan ular itu adalah amal maksiatmu yang engkau jadikan raksasa''. Lantas putri perempuannya menbaca sebuah surat al Hadiid ayat: 16,''apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar ''khusyu' hatinya untuk berdzikir kepada Alloh''. Lantas bertobatlah dia hingga menjadi wali besar.

 

Diriwayatkan oleh Syaikhuna dari Syaikh-syaikhuna bahwa ada tiga sifat akhlaq seorang anak yang menjadi tata karma seorang wali abdal.

 

  • Pertama: anak-anak selalu makan apa adanya tanpa memikirkan hari esok dia akan makan apa (sebuah tanda sifat tawakal yang kuat).
  • Kedua: anak-anak akan selalu menangis dan merengek sekecil apapun masalah yang dihadapi (sebuah tanda sifat menyerahkan diri dan bergantung pada Alloh s.w.t).
  • Ketiga: anak-anak akan selalu menyudahi masalahnya hanya dalam ukuran detik (sebuah sifat musamahah dan pemaaf serta aris yang sempurna).

 

Anak-anak adalah buah hati, penentram jiwa dan menjanjikan surga. Melindungi anak, mendidik, dan membinanya adalah ajaran islam yang sempurna.


Catatan Aqyra Cinta Bunda

Di bawah gubuk reot pinggir kali
Tulungagung 13-04-2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair Gus Dur (Tanpo Waton) Bahasa Indonesia

"Bila nama besar Bung Karno tempoe doeloe –terutama di luar negeri– melebihi Indonesia atau katakanlah Indonesia adalah Bung karno dan Bung Karno adalah Indonesia, ada saatnya nama besar Gus Dur melebihi NU atau katakanlah NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU."( Gus Mus )
Syair "Tanpo waton" atau yang lebih kita kenal sebagai syair "Gus Dur" ini disusun oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) –rahimahullah- dua  bulan menjelang beliau wafat. Dari sumber lain juga disebutkan bahwa sebenarnya syair ini di ciptakan oleh hadratus syeikh Hasyim Asy'ari (Kakek Gus Dur) yang kemudian di kumandangkan lagi oleh Gus Dur. Isi syair berbahasa jawa ini sarat dengan nilai-nilai spiritual yang sangat patut kita resapi makna dibaliknya.
Berikut adalah isi syair Gus Dur (Tanpo Waton) yang sudah saya lengkapi dengan translete(terjemah)nya dalam bahasa Indonesia dibagian bawah. Untuk file mp3-nya bisa didownloaddisini:
ا ستغفرالله رب البرايا # استغفرالله من الخطايا رب زدني…

Biografi KH. MA. Sahal Mahfudz

DR. KH. MA. Sahal Mahfudz
Nama lengkap KH. MA. Sahal Mahfudz (selanjutnya disebut dengan Kyai Sahal) adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.
Beliau adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.
Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang sederhana orang mengira, beliau sebagai orang biasa yang tidak punya pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh pesantren2 ini pernah bergabung dengan institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode y…

Perkembangan Fiqh Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Jika pada artikel sebelumnya saya sudah menulis tentang bagaimana perkembangan ilmu fiqh pada masa Rosulullah, maka pada tulisan kali ini akan kita bahas tentang perkembangan ilmu fiqh pada masa Khulafaur Rasyidin.

Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.
Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh …